Jumat, 02 September 2011

Nightmare berfore Eid ul-Fitr

      
      Ujung bukit itu selalu menjadi teman bagi gue untuk menghabiskan malam-malam, bermain bersama teman-teman. Jika nggak bergelayut didahan pohon atau adu meludah bersama Pongki, lainnya ya mungkin sekedar cecikian ga jelas bareng si Dayang, panggilan akrab gue untuk kuntilanak sahabat baik gue. Tapi selain permainan yang gue sebutin tadi, gue dan temen-temen juga sering mencoba permainan baru. Pokoknya kita selalu bermain di bukit itu setiap malam dan kita baru berhenti bermain kalau Jalu, si ayam jantan kuburan, berkokok. Itu tandanya udah pagi dan kita harus pada tidur di rumah masing-masing. Tapi berhubung bulan puasa, biasanya gue dan temen-temen tidur lebih cepet. Bulan puasa kita tidur pas orang-orang mulai pada sahur, jam 4 pagi lah kira-kira.

      Suara-suara gedombrengan anak-anak alay yang suka keliling kampung untuk membangunkan warga untuk sahur biasanya menjadi alarm buat kita, menjadi semacam tanda bahwa, ini udah waktunya kita berhenti bermain dan mulai tidur. Gue juga gak ngerti kenapa mesti rame-rame gedombrengan, mukuli-mukulin tong gitu sih buat bangunin orang sahur? mau bangunin orang sahur apa ngusir Gondol Wewe?. Ah gue pikir-pikir namanya juga anak-anak alay, kalo ga norak ya ga alay namanya. Tapi, yah, gue dan temen-temen sih ga ambil pusing. Pokoknya kalo alay udah norak keliling-keling gitu ya berarti waktunya buat kita untuk tidur.

       "Tapi kok malam ini beda ya? tumben-tumbenan tuh anak-anak alay keliling lebih cepet.." gue tanya ke Pongki. Kita semua pada bingung, celingukan satu sama lain. "tapi kalo kita dengerin baik-baik kok suara gedombrengannya juga beda ya? kaya lebih rusuh gitu bunyinya" jawab si Pongki. Emang benda apaan lagi sih yang mereka getokin sekarang? rusuh amat bunyinya. "Kalau gue jadi alay, benda yang paling enak buat gue getokin ya kepalanya supir angkot, pan enak tu kepalanya kosong, jadi kalo digetok pasti bunyinya bakal nyaring banget, hihihi..." kata gue bercanda. Tapi lama-lama penasaran juga kita, benda apa sih yang digetokin tuh bocah-bocah alay, kok rusuh amat bunyinya. Ya udah akhirnya karena kita penasaran, kita memutuskan untuk mengintip aktivitas mereka dari pintu kuburan.

      Berikutnya pemandangan dari pintu kuburan sungguh membuat kita terkejut, ternyata itu bukan bunyi gedombrengan anak-anak alay yang lagi getok-getokin tong. Ya, bukan, ternyata itu suara kerusuhan. Sedang terjadi tawuran antar warga kampung Bebek dengan kampung sebelah. Pemandangan yang kita lihat sungguh ngeri banget, orang-orang saling lempar batu dan saling bacok. Ada apa ini? kenapa sih bulan puasa, bulan yang seharusnya orang belajar untuk sabar dan saling menghargai malah tawuran dan justru terjadi kerusuhan gini?. Ga ada satupun dari kita yang bisa jawab. "kita harus cari tau penyebabnya" bisik gue.

*****

Jali menunggang Kopet
      Kita semua, gue, Pongki, Dayang, dan Sempal bingung harus dari mana mulainya untuk mencari tau penyebab kekacauan ini. "Kita musti mulai dari mana nih, nyet?" tanya pongki ke gue. "Ah, warga kampung Bebek yang tawuran kok kita yang repot? kita kan warga kuburan. Emangnya kuburan kita pernah diperatiin sama warga, liat aja tuh banyak banget semak belukar ama sampah2 ga keurus ama warga Bebek" gerutu Sempal. "Yah jangan gitu dong Sempal, saling bantu sesama makhluk Tuhan kan ga ada salahnya" timpal Dayang. "Kita samperin aja Mr. Bad Luck gimana? kita tanya langsung aja penyebabnya sama dia?"  sahut gue. "Iya boleh banget tuh.." sahut Pongki setuju. Lalu berangkat lah kita ke rumah Mr. Bad Luck. Kita berangkat mengendarai Kopet, sejenis kuda para hantu berkepala mirip campuran antara naga dan kambing, badannya bersisik, tekstur kulitnya mirip kain felt, wajahnya muram, dan memiliki sayap selebar empang. 

       Kita tiba di rumahnya Mr. Bad Luck sejam kemudian, ia sedang asik main game PC Assain Creed rupanya. Ia keliatan cuek banget kita dateng ampe ga digubris. Boro-boro digubris, kita masuk rumahnya aja sampe nyelonong gara-gara udah kita panggil-panggilin ga juga dibukain pintu ama dia. Sableng banget nih malaikat. Ya udah akhirnya setelah kita paksa-paksa, dia akhirnya mau juga ceritaiin ke kita apa yang terjadi sebenarnya -walaupun dengan muka males-malesan campur bete.

        Ia mulai bercerita, bahwa sebulan sebelumnya, di kerajaan Dajjal, sebuah gua di dasar lautan, terjadi sebuah pertemuan antara "seekor" setan betina sekertaris si Dajjal dengan Panglima genderuwo. Gue pakai tanda kutip untuk "seekor" setan betina soalnya sebetulnya gue emang ga tau persisnya apa sebutan untuk setan. Seorang? tapi setan bukan orang ataukah sebuah? tapi setan juga bukan benda mati. Yah, "seekor" gue rasa paling pas deh, soalnya setan tingkat kecocokkannya lebih deket sama binatang, baik itu perilakunya maupun fisiknya (bertanduk dan berekor kaya kerbau). Tikva adalah nama si "seekor" setan betina itu, Yadid nama si panglima genderuwo, dan Zebulon adalah nama si Dajjal raja segala setan. Atas perintah Zebulon, Tikva bertemu dengan Yadid untuk membicarakan tentang rencana kemungkinan mereka untuk bersekutu, bersama-sama menyebar fitnah, kebencian, dan membuat kekacauan selama bulan puasa. Yadid bersedia mengerahkan 10.000 pasukan Genderuwo asalkan pihak setan bersedia menyanggupi permintaan bangsa Genderuwo yaitu gratis makan harian selama setahun.  

      Pihak setan setuju. Lalu Tikva menunjukkan sebuah bola kaca, bola itu berisi asap yang berkilau seperti intan dan berwarna gelap. Bola itu disebut bola kebencian. Tugas pertama yang harus dilakukan Yadid adalah mengantar bola kaca ini kepada seorang manusia, manusia yang hatinya penuh kebencian. Anak manusia itu yang nantinya akan menjadi eksekutor alias pelaksana penyebar kebencian kepada masyarakat. Syarat lainnya yaitu anak manusia itu harus memiliki orang tua atau saudara yang berkecimpung di pemerintahan alias pejabat yang licik. Yadid dan Tikva sepakat bahwa ada satu orang anak manusia yang memenuhi kriteria tersebut. Saladin namanya, muda, cerdas, gelap hatinya, berani, keras kepala, dan memiliki ayah seorang pejabat yang licik.

     Gak pake buang-buang waktu berangkatlah mereka menemui Saladin. Adin, begitu ia akrab disapa, seorang anak berwatak keras namun cerdas dan gelap hatinya. Awal ia tidak mau diajak bersekutu, ia sangat sombong bicaranya hingga memaksa setan mengeluarkan ribuan bujuk rayunya. Akhir ia mau diajak bersekutu setelah diiming-imingi akan diberikan popularitas dan harta yang langgeng kelak setelah ia dewasa nanti. Adin menerima bola kaca itu ditangannya, yang perlu dia lakukan sekarang adalah mendapat kata "ya" dari ayahnya yang seorang pejabat licik. Ya, cukup dengan kata "ya" dari seorang pejabat licik yang berkuasa maka aktiflah bola kebencian itu dan siap untuk menebarkan perpecahan di kalangan umat manusia. Kemudian pergilah ia untuk menemui ayahnya dan meminta sebuah kata "ya".

     Abu Basri, ayah Saladin adalah seorang pengusaha kaya dan seorang pejabat berkuasa yang licik, tidak berhati nurani. Semua sifat yang ada di dirinya adalah syarat yang cocok untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Mendengar imbalan-imbalan yang akan di dapat dari setan, maka Basri tidak berpikir panjang dan langsung memberikan restu kata "ya"-nya kepala bola kaca tersebut. Basri telah meberikan restunya, maka berangkatlah Tikva dan Yadid serta Adin sebagai eksekutor untuk menyebar fitnah dan kebencian.

       Begitulah cerita dari Mr. Bad Luck. Dan kini, kekacauan pun telah terjadi di mana-mana. Fitnah menyebar, tawuran antar warga terjadi di mana-mana, pembagian infak ricuh, dan Pilkada rusuh. Inilah yang terjadi tidak hanya di kampung Bebek deket kuburan tempat gue tinggal, tapi juga kalo gue liat TV ternya kerusuhan juga terjadi di mana-mana seluruh negeri ini. "Inilah yang gue sebut mimpi buruk sebelum lebaran - the nightmare before eid ul-fitr".


*****

      Kasian ya anak-anak kecil yang belom tau dosa tapi harus ketakutan tiap malem. Malem bulan puasa yang seharusnya menyenangkan buat mereka justru berubah jadi mimpi buruk dan ketakutan. "Hmmm...kita tidak bisa biarkan ini, kita harus bertindak" kata si Pongki ketus. "Iya bener, ayo kita kumpulin temen-temen kita dari kuburan..kita rebut bola kaca sial itu terus kita hancurkan!!" lanjutnya. "Ayo masing-masing kumpulin temen-temen sesama jenisnya, Pongki, kumpulin temen-temen lo sesama Pocong, Dayang kumpulin semua kuntilanak-kuntilanak yang lagi pada nongkrong cekikikan di pohon, Sempal! eh...lo kan genderuwo ilang yang udah diusir ya.. terus, lo kumpulin siapa?" tanya gue. Sempal ditanya malah bengong, dasar genderuwo bego, bengong mulu kerjaannya, capede... "Yaudah, Sempal lo kumpulin deh tuh alat-alat perang buat kita-kita." kata gue. "Siap!!" kata Sempal. Trus dia ngeloyor aja langsung, gue curiga, ngerti ga tuh barusan yang gue omongin.

        Jam menunjukkan pukul 22, semua hantu-hantu udah pada ngumpul siap perang. Tapi rencana kita maju perang jadi molor dua jam gara-gara si Sempal salah ngumpulin alat perang. Dia malah bawa alat-alat dapur, dasar koplak banget deh nih jin satu. Ga heran dah dia dibuang sama kaum genderuwo. Akhirnya setelah bolak-balik salah, tuh si Sempal akhirnya bawa alat-alat yang perang yang kita butuhin.

       Pukul 00, kita semua, gue dan para hantu mencegat para setan-setan dan genderuwo yang hendak menyebar kebencian dan provokator kepada warga kampung Bebek dan peperangan pun tak terhindarkan. Harus gue akui mereka para setan dan genderuwo jago banget berantemnya. Si muluk bolak balik ngabur sembunyi di dalam kantor kelurahan. Si pongki dan kaum pocong nih yang kasian, secara mereka kan dibungkus kafan. Jadi kalo lagi diuber-uber susah kaburnya, akhirnya mereka pada gelinding kaya guling gitu kaburnya. Para kuntilanak juga kasian, mereka kayanya repot banget sama rambut dan bajunya yang panjang, sering keserimpet. Gue kadang-kadang mikir, siapa sih yang nentuin kalo seragam pocong mesti dililit kafan dan seragam kuntilanak musti daster putih panjang serta rambutnya mesti panjang sampe tanah. Tega banget. Kasian kan mereka, mobilitas gerakannya jadi terbatas gara-gara kostum anehnya, lagian kalo diliat-liat tuh kostum ga modis sama sekali. Kalo genderuwo sih ga apa-apa, lagian tampang mereka juga jeleknya udah poll. Mau dikasih kostum kaya apa juga nggak pantes, hehe..Tapi ga nyangka si Sempal ternyata jago banget berantemnya, Top banget deh, paling engga walaupun o'on tapi ada masih ada yang bisa dibanggain dari dia. Duh gue lagi berantem pikiran gue malah ga konsen gini mikirin kostum mereka.

*****

      Akhirnya setelah bertarung selama kira-kira dua jam kita bisa bisa ngalahin para setan dan genderuwo. Kita tadinya hampir aja kalah, tapi Mr. Bad Luck yang baik hati tiba-tiba aja dateng sama geng mautnya. Terus, Mr. Fine Luck yang biasanya males banget bantuin orang kecuali itu jobdesk-nya dia buat bantu orang, tiba-tiba aja dateng sama temen-temenya yang metal-metal. Wah, ga kebayang, kalo ga dibantuin mereka berdua pasti kita udah kalah deh.

      Pertarungan usai, bola kaca akhirnya berhasil gue rebut dari tangan Adin. Dan si Adin yang sombong lari bersembunyi bagai seorang pengecut, huh! Sekarang kita bisa berlebaran dengan damai tanpa adanya kebencian di antara kita. "Lalu mau diapakan nih bola kaca kebencian ini?" tanya Pongki. "Enaknya diapain ya?". "Lebih baik kita titip aja ke Mr. Bad Luck, mungkin lebih aman kalo para malaikat yang simpan tuh benda sial" usul Dayang. "Iya deh" jawab gue. Akhirnya bola kaca itu dibawa oleh Mr. Bad Luck kerumahnya, ia akan simpan di tempat yang paling aman, begitu janjinya pada kita.

*****

      Gue senang dan lega melihat kerukunan dan kedamaian antar warga di sekitar kuburan tempat tinggal. Gue senang mereka bisa berlebaran tanpa dihantui rasa takut dan kebencian. Yah, walaupun gue iri, gue cuma bisa melihat kebahagiaan mereka dari balik pagar kuburan. Seandainya gue punya keluarga seperti mereka, seandainya aja gue bisa ikut merasakan sedikit kebahagiaan yang mereka rasakan. Tapi, yah..., di sini lah hidup gue, di kuburan ini. Memiliki eyang, Muluk, Pongki, Dayang, Sempal, Manjalians, serta teman-teman hantu yang lain di taman kuburan ini adalah sebuah bentuk kebahagiaan tak ternilai yang gue miliki. Gue bersyukur kepada Tuhan atas apapun yang gue punya saat ini.... 

Minal Aidin Walfaidzin  Manjalians, kalau Jali dan teman-teman punya salah mohon dimaafkan...
salam...
- Nina Anjani Manjali-
Agustus 2011

 

6 komentar:

Hani mengatakan...

kasihan pongki babak belur :( emang tega setega-teganya tega yg nyetek sragam pocong itu dililit kafan


'nyetek' apa ya -__-

Anonim mengatakan...

wah sadis buku ke berapa nh

Anonim mengatakan...

Sejak Kapan Bulan Ramadhan Ada Hantu yang kagak di KurunK?

Azizah Amatullah mengatakan...

buat yg komen d atas gue : hantu itu bukan setan . Hantu itu jin . Sebenernya jin itu ga keliatan , cuma imajinasi kitany aja ketinggian . Jd jin itu bnr2 keliatan . Setan itu sebenernya KITA . Kita yg berprilaku seperti IBLIS .

Azizah Amatullah mengatakan...

bang dannie keren ceritanya xD

ek@putr@yugo mengatakan...

kalo setan nya di kurung nanti bang danie mau cerita apa..??
secarakan temennya si jali mayoritas setan..!!
:)

Posting Komentar

 

Publisher

banner bukune.com

Nina's Best Friend

banner komikoo.com